Sayap Patah Mei 6, 2008
Posted by riennoordyahgaussy in seni.trackback
SAYAP PATAH
By Riennoor Dyah GaussySepi memagari malam hingga ke sudut gundah gulana. Mata tak mampu terjamah lelap, hanya sayu berbaur rasa lelah, menyisakan guratan warna merah. Tak ada marah apalagi rasa benci kala cinta suciku kau campakkan ke dalam comberan penyesalan. Aku sesungguk meratapi harga diri yang tak dibalas sesenpun oleh rasa simpati. Harga diri? Rasanya terlalu suci istilah itu bagiku karena telah kugadaikan segala yang berharga untuk menghamba padamu. Karena pesonamu mengalahkan kokohnya benteng iman pada Tuhan. Telah kuberhalakan lekuk pinggulmu, merah bibirmu, mancung hidungmu dan dengus nafasmu beraromakan kegairahan untuk hidup seribu tahun lagi.
“Diang, ini kubawakan sebakul rindu untukmu!” Kalimat itu selalu meluncur dari mulut tulus pada setiap sua kita. Lalu engkau tertawa sambil merentangkan kedua lengan. Tubuhmu dan tubuhku menyatu dalam keceriaan cinta remaja.
Pernah suatu ketika sifat manjamu menggeliat penuh ritme waktu kita jalan – jalan di stand pameran handphone di World Trade Center Surabaya.
“Kak, bagus ya tipe N91? Ada cameranya dan mampu menyimpan hingga 3000 lagu!” ucapmu seraya menggelayutkan harap di tali dompetku.
“Iya! Diang mau?”
“Mau kak! Ehh.. nggak! Diang enggak punya uang.“
“Nanti kakak yang belikan asal Diang mau!”
“Benar kak?”
“Iya! Diang pilih saja warnanya.”
“Horee…!!! Eummahhhh! Kakak baik deh!” kecupan itu bukan yang pertama kau daratkan di pipiku. Kecupan itu pula yang meninabobokan semua egoisme di keranjang pengorbanan. Aku telah menanam royal di ladang tingkah polah seekor burung dara. Royal dengan harapan berbuah loyal.
Tak dinyana burung dara pandai bersandiwara. Mencicitkan lagu rindu di setiap pagi kala mentari menyapa, hanya kicauan dusta. Engkau telah terbang bersama seekor gagak tua. Aku yang tak punya sayap hanya mampu merayap, meski telah mencoba melompat dari kepasrahan namun berujung terjerembab. Dengan kedua mata sembab kucoba punguti serpihan luka hati, perih nian rasanya ditinggalkan!
Seperti biasa, lengan waktu menjulur pada dinding hari, tembok minggu, altar bulan hingga mampu memagut utuh bangunan tahun. Lima tahun tak terasa semenjak kepakmu menyisakan luka menganga. Luka yang kuobati sendiri. Dengan langkah tertatih dan sesekali lirih menyirih perih kutanggalkan baju masa lalu. Kusibukkan diri dengan mengembangkan perusahaan warisan keluarga hingga mampu melakukan ekspansi ke banyak negera, menjadi perusahaan raksasa. Kesibukanlah yang mengusir desir rindu akan dirimu. Kesibukanlah yang menyuburkan ketegaran, hingga racun serangga dan cairan obat nyamuk tak mampu merayu imaji untuk berdansa dengan malaikat di alam baqa, meski syetan sempat menyuguhkan tarian tanpa kutang dari peri dan bidadari.
“Sir! You’re not day dreaming, aren’t you?”
“Oh …no!! Just drive!”
Mr. Vijay, supir pribadi yang merangkap penjaga rumah di Singapura tak berani bertanya lagi. Tak seperti biasanya, dimana percakapan hangat selalu membantu mengusir penat. Tapi kini aku memilih diam.
Setelah penerbangan dari bandara Hang Nadim menuju Changi Airport, penat memang sempat merayap. Merayap tidak hanya pada rapuh tulang namun juga pada harapan teman – teman di Indonesia untuk membantu mengecek kebenaran isu trafficking. Banyak sekali tenaga kerja wanita dari Indonesia yang diiming – imingi menjadi karyawan namun akhirnya dijadikan pelacur di negara tetangga yang kaya raya itu. Tadi aku sengaja mampir di Batam karena ada pertemuan dengan pimpinan lembaga swadaya masyarakat yang peduli akan hak – hak para buruh dan kaum wanita, dalam pertemuan itu mereka menitip misi spionase atau lebih tepatnya meminta kesediaanku mempekerjakan tenaga kerja Indonesia yang sudah terlanjur berada disana agar tidak terjebak dalam dunia prostitusi.
Biasanya keceriaan dan tawa canda mewarnai injakan gas dan bunyi klakson mobil yang dikendarai oleh Mr. Vijay. Tapi kali ini aku tak berminat untuk mendengar joke – joke segarnya. Sebenarnya tanpa melucupun ia sudah lucu, apalagi saat mendengar ucapannya dalam bahasa Indonesia. Lebih kocak daripada banyolan group lawak srimulat.
Mobil Jaguar yang kutumpangi melaju di sepanjang jalan Orchad terlihat dengan jelas Four Seasons Hotel yang menjadi tempat menginap para shopper dari negeri kita karena dekat dengan pusat perbelanjaan. Beberapa kali aku terpaksa menginap disana sekedar memanjakan relasi bisnis. Tarifnya lumayan mahal untuk ukuran masyarakat kita kebanyakan, yaitu sekitar sekitar 640 SGD permalam. Setiap melintas di jalan Orchad, pertanyaan yang sama selalu menggelitik benak, Siapa bilang orang Indonesia miskin? Milyaran rupiah di hambur – hamburkan oleh masyarakat kita di negara Singapura hanya untuk berbelanja. Entah uangnya dapat dari mana?
Aku mampir sebentar di Shenna Jewelry Shop memberikan briefing kepada store manager dan asistennya sekaligus menambah beberapa perhiasan yang merupakan koleksi baru dan belum beredar di negara manapun.
“Mr. Vijay, Later, I’ll be visiting Geylang!”
“Geylang? Sir, you are not……?”
“Geylang ! Don’t you dare think of anything? “
Aku sengaja membuat Mr. Vijay kebingungan, biasanya kalau aku menemui relasi bisnis yang tempat pertemuannya di kawasan Geylang, aku langsung saja menyebut nama tempatnya karena kalau “Geylang” konotasinya berbau kebusukan, keaiban, dan jajanan birahi.
Gadis manis yang menemuiku ternyata orang Indonesia. Ia berupaya bersikap sopan meski masih nampak kerling binal menyisipi sikapnya dan yang pasti pakaian yang dikenakannya mampu menuntun kaum pengembara menjelajahi negeri birahi. Tapi tujuanku kesini bukan untuk memanjakan nafsu. Aku kesini untuk mengecek kebenaran laporan dari salah satu mucikari bahwa banyak wanita Indonesia yang masih berbau kencur dijual kepadanya oleh sindikat perdagangan wanita. Waktu bapak Ruhut, ketua LSM di Batam menceritakan hal itu, aku sempat ragu. Masa ada mucikari yang rela mengeluarkan ribuan dollar membeli puluhan wanita kemudian menyerahkan wanita – wanita itu kepada pihak lain untuk dipekerjaan secara baik – baik? Keheranan itulah yang membuatku enggan bercanda dengan Mr.Vijay. Keheranan itulah yang menularkan keheranan pada Mr.Vijay karena aku mau menginjakan kaki disini. Keheranan itu pula yang mengukuhkan tekadku bersedia menerima wanita – wanita korban trafficking itu bekerja pada beberapa perusahaanku yang ada di Singapura.
“Mbak! Boleh tahu, Mami Happy aslinya darimana?”
“Dari Indonesia! Sama seperti saya. Hanya saja nasibnya lebih baik, karena ia menjadi isteri simpanan Papi Robert, pemilik usaha ini. Dia dipercaya sepenuhnya mengelola dan mengepalai hampir 200 anak buah, salah satunya saya.”
Aku manggut – manggut sambil terus bertanya, “Usianya sudah tua?”
“Oh tidak! Ia seusia saya, tapi lebih cantik meski sering terlihat bersedih!.”
“Bersedih??? Maksudmu bisnisnya lagi lesu?”
“Tidak! Ia bersedih karena menyesali tindakan yang pernah diambilnya beberapa tahun lalu, menghianati kekasihnya. Kekasih yang menurutnya sepenuh jiwa raga menghamba kepadanya namun ia campakkan hanya karena ambisi dan ketidakmengertian hakikat cinta suci.”
“Ooooo….begitu?”
“Mari pak saya antar ke Mami Happy, dia sudah menunggu kedatangan Bapak!” kata Merry, gadis manis asal Indonesia tadi. Sambil berjalan melewati jejeran wanita cantik multi etnik yang berasal dari banyak negera, pikiranku melayang pada rekaan figur Mami Happy. Ia pasti seorang wanita tangguh karena mampu mengelola bisnis prostitusi ini, bisnis yang identik dengan kekerasan dan kriminalitas.
“Silakan masuk pak, saya mengantar hanya sampai disini.” kata Merry sembari membukakan pintu kaca berwarna gelap.
Setelah memasuki ruangan, perasaan galau menceracau mematikan seluruh persendian. Mulut terkatup bukan bisu tetapi gumpalan kenangan berdesakan di lorong masa lalu. Engkau juga begitu, berdiri kaku seakan berhadapan dengan bayangan setan.
“Kak Danang ……???”
“Diang Ingsun .. eh .. Mami Happy….???
Tubuhmu melunglai digagahi mimpi sore. Dan aku sesunggukkan dalam ketidak percayaan.
By Riennoor Dyah GaussySepi memagari malam hingga ke sudut gundah gulana. Mata tak mampu terjamah lelap, hanya sayu berbaur rasa lelah, menyisakan guratan warna merah. Tak ada marah apalagi rasa benci kala cinta suciku kau campakkan ke dalam comberan penyesalan. Aku sesungguk meratapi harga diri yang tak dibalas sesenpun oleh rasa simpati. Harga diri? Rasanya terlalu suci istilah itu bagiku karena telah kugadaikan segala yang berharga untuk menghamba padamu. Karena pesonamu mengalahkan kokohnya benteng iman pada Tuhan. Telah kuberhalakan lekuk pinggulmu, merah bibirmu, mancung hidungmu dan dengus nafasmu beraromakan kegairahan untuk hidup seribu tahun lagi.
“Diang, ini kubawakan sebakul rindu untukmu!” Kalimat itu selalu meluncur dari mulut tulus pada setiap sua kita. Lalu engkau tertawa sambil merentangkan kedua lengan. Tubuhmu dan tubuhku menyatu dalam keceriaan cinta remaja.
Pernah suatu ketika sifat manjamu menggeliat penuh ritme waktu kita jalan – jalan di stand pameran handphone di World Trade Center Surabaya.
“Kak, bagus ya tipe N91? Ada cameranya dan mampu menyimpan hingga 3000 lagu!” ucapmu seraya menggelayutkan harap di tali dompetku.
“Iya! Diang mau?”
“Mau kak! Ehh.. nggak! Diang enggak punya uang.“
“Nanti kakak yang belikan asal Diang mau!”
“Benar kak?”
“Iya! Diang pilih saja warnanya.”
“Horee…!!! Eummahhhh! Kakak baik deh!” kecupan itu bukan yang pertama kau daratkan di pipiku. Kecupan itu pula yang meninabobokan semua egoisme di keranjang pengorbanan. Aku telah menanam royal di ladang tingkah polah seekor burung dara. Royal dengan harapan berbuah loyal.
Tak dinyana burung dara pandai bersandiwara. Mencicitkan lagu rindu di setiap pagi kala mentari menyapa, hanya kicauan dusta. Engkau telah terbang bersama seekor gagak tua. Aku yang tak punya sayap hanya mampu merayap, meski telah mencoba melompat dari kepasrahan namun berujung terjerembab. Dengan kedua mata sembab kucoba punguti serpihan luka hati, perih nian rasanya ditinggalkan!
Seperti biasa, lengan waktu menjulur pada dinding hari, tembok minggu, altar bulan hingga mampu memagut utuh bangunan tahun. Lima tahun tak terasa semenjak kepakmu menyisakan luka menganga. Luka yang kuobati sendiri. Dengan langkah tertatih dan sesekali lirih menyirih perih kutanggalkan baju masa lalu. Kusibukkan diri dengan mengembangkan perusahaan warisan keluarga hingga mampu melakukan ekspansi ke banyak negera, menjadi perusahaan raksasa. Kesibukanlah yang mengusir desir rindu akan dirimu. Kesibukanlah yang menyuburkan ketegaran, hingga racun serangga dan cairan obat nyamuk tak mampu merayu imaji untuk berdansa dengan malaikat di alam baqa, meski syetan sempat menyuguhkan tarian tanpa kutang dari peri dan bidadari.
“Sir! You’re not day dreaming, aren’t you?”
“Oh …no!! Just drive!”
Mr. Vijay, supir pribadi yang merangkap penjaga rumah di Singapura tak berani bertanya lagi. Tak seperti biasanya, dimana percakapan hangat selalu membantu mengusir penat. Tapi kini aku memilih diam.
Setelah penerbangan dari bandara Hang Nadim menuju Changi Airport, penat memang sempat merayap. Merayap tidak hanya pada rapuh tulang namun juga pada harapan teman – teman di Indonesia untuk membantu mengecek kebenaran isu trafficking. Banyak sekali tenaga kerja wanita dari Indonesia yang diiming – imingi menjadi karyawan namun akhirnya dijadikan pelacur di negara tetangga yang kaya raya itu. Tadi aku sengaja mampir di Batam karena ada pertemuan dengan pimpinan lembaga swadaya masyarakat yang peduli akan hak – hak para buruh dan kaum wanita, dalam pertemuan itu mereka menitip misi spionase atau lebih tepatnya meminta kesediaanku mempekerjakan tenaga kerja Indonesia yang sudah terlanjur berada disana agar tidak terjebak dalam dunia prostitusi.
Biasanya keceriaan dan tawa canda mewarnai injakan gas dan bunyi klakson mobil yang dikendarai oleh Mr. Vijay. Tapi kali ini aku tak berminat untuk mendengar joke – joke segarnya. Sebenarnya tanpa melucupun ia sudah lucu, apalagi saat mendengar ucapannya dalam bahasa Indonesia. Lebih kocak daripada banyolan group lawak srimulat.
Mobil Jaguar yang kutumpangi melaju di sepanjang jalan Orchad terlihat dengan jelas Four Seasons Hotel yang menjadi tempat menginap para shopper dari negeri kita karena dekat dengan pusat perbelanjaan. Beberapa kali aku terpaksa menginap disana sekedar memanjakan relasi bisnis. Tarifnya lumayan mahal untuk ukuran masyarakat kita kebanyakan, yaitu sekitar sekitar 640 SGD permalam. Setiap melintas di jalan Orchad, pertanyaan yang sama selalu menggelitik benak, Siapa bilang orang Indonesia miskin? Milyaran rupiah di hambur – hamburkan oleh masyarakat kita di negara Singapura hanya untuk berbelanja. Entah uangnya dapat dari mana?
Aku mampir sebentar di Shenna Jewelry Shop memberikan briefing kepada store manager dan asistennya sekaligus menambah beberapa perhiasan yang merupakan koleksi baru dan belum beredar di negara manapun.
“Mr. Vijay, Later, I’ll be visiting Geylang!”
“Geylang? Sir, you are not……?”
“Geylang ! Don’t you dare think of anything? “
Aku sengaja membuat Mr. Vijay kebingungan, biasanya kalau aku menemui relasi bisnis yang tempat pertemuannya di kawasan Geylang, aku langsung saja menyebut nama tempatnya karena kalau “Geylang” konotasinya berbau kebusukan, keaiban, dan jajanan birahi.
Gadis manis yang menemuiku ternyata orang Indonesia. Ia berupaya bersikap sopan meski masih nampak kerling binal menyisipi sikapnya dan yang pasti pakaian yang dikenakannya mampu menuntun kaum pengembara menjelajahi negeri birahi. Tapi tujuanku kesini bukan untuk memanjakan nafsu. Aku kesini untuk mengecek kebenaran laporan dari salah satu mucikari bahwa banyak wanita Indonesia yang masih berbau kencur dijual kepadanya oleh sindikat perdagangan wanita. Waktu bapak Ruhut, ketua LSM di Batam menceritakan hal itu, aku sempat ragu. Masa ada mucikari yang rela mengeluarkan ribuan dollar membeli puluhan wanita kemudian menyerahkan wanita – wanita itu kepada pihak lain untuk dipekerjaan secara baik – baik? Keheranan itulah yang membuatku enggan bercanda dengan Mr.Vijay. Keheranan itulah yang menularkan keheranan pada Mr.Vijay karena aku mau menginjakan kaki disini. Keheranan itu pula yang mengukuhkan tekadku bersedia menerima wanita – wanita korban trafficking itu bekerja pada beberapa perusahaanku yang ada di Singapura.
“Mbak! Boleh tahu, Mami Happy aslinya darimana?”
“Dari Indonesia! Sama seperti saya. Hanya saja nasibnya lebih baik, karena ia menjadi isteri simpanan Papi Robert, pemilik usaha ini. Dia dipercaya sepenuhnya mengelola dan mengepalai hampir 200 anak buah, salah satunya saya.”
Aku manggut – manggut sambil terus bertanya, “Usianya sudah tua?”
“Oh tidak! Ia seusia saya, tapi lebih cantik meski sering terlihat bersedih!.”
“Bersedih??? Maksudmu bisnisnya lagi lesu?”
“Tidak! Ia bersedih karena menyesali tindakan yang pernah diambilnya beberapa tahun lalu, menghianati kekasihnya. Kekasih yang menurutnya sepenuh jiwa raga menghamba kepadanya namun ia campakkan hanya karena ambisi dan ketidakmengertian hakikat cinta suci.”
“Ooooo….begitu?”
“Mari pak saya antar ke Mami Happy, dia sudah menunggu kedatangan Bapak!” kata Merry, gadis manis asal Indonesia tadi. Sambil berjalan melewati jejeran wanita cantik multi etnik yang berasal dari banyak negera, pikiranku melayang pada rekaan figur Mami Happy. Ia pasti seorang wanita tangguh karena mampu mengelola bisnis prostitusi ini, bisnis yang identik dengan kekerasan dan kriminalitas.
“Silakan masuk pak, saya mengantar hanya sampai disini.” kata Merry sembari membukakan pintu kaca berwarna gelap.
Setelah memasuki ruangan, perasaan galau menceracau mematikan seluruh persendian. Mulut terkatup bukan bisu tetapi gumpalan kenangan berdesakan di lorong masa lalu. Engkau juga begitu, berdiri kaku seakan berhadapan dengan bayangan setan.
“Kak Danang ……???”
“Diang Ingsun .. eh .. Mami Happy….???
Tubuhmu melunglai digagahi mimpi sore. Dan aku sesunggukkan dalam ketidak percayaan.
Singapore, 2004
Komentar»
No comments yet — be the first.