Selingkuh Mei 6, 2008
Posted by riennoordyahgaussy in seni.trackback
Oleh :Riennoor Dyah Gaussy
Kukubur dalam – dalam rasa cinta itu. Kukubur di pelataran nalar, biar mudah terlihat, biar mudah ditimpuk dengan batu setiap kali ia mau tumbuh lagi.
Tak mungkin ada cinta di antara kita. Putiknya telah patah diinjak anak piak. Aku ibarat matahari yang setia menyinari bumi, kemudian sirna manakala kamu, sang bulan mulai menari di malam sepi, asa yang tersisa hanya lembayung rindu mengatup gundah. Aku sang matahari tak bisa berbuat apa – apa nantinya, meski mendung menggulung, menutupi putik sari wajahmu, bulanku. Meski malammu kesepian tanpa kerlip bintang gemintang.
Memang, aku tak lebih dari seorang pecundang egois, mencoba manabur jala di sumur tetangga dengan harapan mendapatkan mutiara, hanya lumpur semburat ke muka kusut, muka yang tak pernah berkaca pada cermin berbingkai etika. Rasa perih yang kurasa melebihi air cuka sehingga mata tak mampu manatap gelombang cerca yang menerjang seperti tsunami, ngeri! Ya! Aku pecundang egois, egois karena telah menghisap wangi bungamu hingga meranggas. Kau relakan kelopak melayu satu persatu dalam selimut mimpi yang kugelar di trotoar moral, persis seperti seekor kumbang jalang yang lari terbirit manakala sayap tak kuasa menahan beban madu perawan.
Tak mudah memang membuat keputusan. Berpaling darimu ibarat menoreh luka pada sukma hampa. Semua kemasyukkan yang kita lokoni berawal dari tarian kebinalan dan geliat manja kerling mata. Nuansanya menumpahkan air liur setiap dahaga syahwat bertahta. Tapi keputusan telah kuambil. Keputusan berbau kecut dari seorang pengecut yang takut hingga terkentut – kentut ketika mendengar bunyi pecut penari reog mengunyah beling pertanggung jawaban.
Bila kini aku mencoba berlari dan memang benar – benar telah lari, hanya jasadku yang melalang buana, di hati masih terpatri ilusi dan rindu dendam terus berdentam memalu hasrat yang meronta untuk selalu memelukmu. Karena pelarian yang disarati beban di pundak harap tak ubahnya ceceran bercak aib di bekas langkah dan kedua kaki goyah tak mampu mengangkat harga diri meski hanya seinci.
Dalam pelarian, suatu senja aku terjaga dari tidur tanpa kasur, kepenatan merayap hingga ubun – ubun kepasrahan. Aku betul – betul pasrah. Semua pelarian terasa sia – sia dan selalu bermuara pada suara gema di lembah naluri seorang lelaki yang masih menyisakan cintanya untuk dua wanita, kamu dan isteriku.
Aku masih ingat saat pertama kita bersua. Pohon kedukaan yang ditanam oleh kekasih pertamamu menghujam dalam, meretakkan harapanmu, membuahkan rasa iba di hatiku. Dan nestapa yang kau ratapi memupuk simpati, menyuburkan keberanian memeluk pundakmu, merangkul utuh semua gundah. Engkau pasrah! Semua keluh kesah tumpah ke dalam bakul keisengan puber kedua. Aku tiba – tiba merasa belia. Persis seperti remaja yang baru merasakan indahnya cinta pertama. Selanjutnya yang ada hanya kealpaan. Aku lupa telah berumah tangga, dan engkau tak peduli carut marutnya temali cinta yang dicuri.
Bila kini carut marut yang telah digoreskan ke kanvas perselingkuhan menampakkan potret suram, sama sekali bukan sebuah azab apalagi karma. Tapi lebih pada topeng kepura – puraan yang retak, menyisakan goresan perih di wajah aib, sungguh sebuah keaiban yang melenakan karena telah melewati mediasi tres dan kesurupan. Bila kini aku terjaga, seperti zombie yang baru bangkit dari liang kubur sambil mengusap mata realita, jangan ada kata tanya! Jawabannya selalu sama, tubuh utuh semua lelaki, berasal dari tanah dicampur lumpur egoisme. Naifnya lagi, lelaki pandai menghiba bila tersiksa, tertawa ria bila bahagia, dan menjemur tanggung jawab di tali rafia bila ketangkap basah berdusta, biar mengering ditiup angin ketidak pastian. Bias tanpa bekas!
Malam itu, ketika terakhir kali kita bersua. Engkau tak mampu mengeluarkan suara. Hanya guliran airmata membanjiri pipi pucat. Aku katakan bahwa jalan di depan penuh belukar dan menanjak, menapaki bukit berduri perlu konsentrasi, tidak cukup hanya berbekal imajinasi. Aku tak mau mengajakmu meski hanya menggandeng tangan harap, karena tangan kanan sudah ada beban, mengangkat harkat isteri yang telah mati suri, dan di tangan kiri jejaka kecil menyanyi tra..la..la, tri..li..li. Kutatap wajahmu. Tanpa ekspresi!
“Bulan jangan kau redupkan cahayamu hanya karena kecongkakkanku. Tetaplah menyinari bumi!” hiburku. Engkau tetap diam dan awan hitam yang kutimpakan ke mukamu membentuk mendung menggelantung. Sepertinya hujan akan turun. Pipimu memerah menahan airmata duka. Sepertinya hari – hari akan berlalu dengan gerimis di sisa waktu pengembaraan. Kucoba merengkuh pundakmu, engkau menepis! Tak ada lagi kepasrahan. Tak ada lagi melodi yang biasa kita nyanyikan. Hanya isakan yang menjadi lagu wajibmu sejak saat itu.
Keterpanaan mengguncang hati kecilku hingga ikut mendendangkan isakan. Lebih parahkah luka yang kugoreskan hingga darahnya tak mampu dicuci dengan janji – janji lagi? Apalagi hanya dengan sebuah pelukan! Kucoba berkaca di kubangan lumpur, tak tampak jawaban hanya gemerisik daun ilalang mencibir nyinyir.
Aku telah pulang, tapi tidak ke ladangmu. Aku pulang ke rumah yang kubangun untuk isteri dan anakku. Meski atapnya telah bocor, meski tiang – tiang penyangga keutuhan lapuk, kutemukan keteduhan disana. Taman di halaman depan walaupun kurang terawat masih menaburkan aroma bunga melati, suci! Kolam kecil di utara taman masih menyuarakan gemericik sirip ikan koi, sirip yang mampu mengayuh lamunan akan bayang dirimu hingga ke serakan batu koral.
Di rumah itu keceriaan masih berlenggang dan berlalu lalang padahal topeng kepura – puraan belum kutanggalkan. Ketika masuk, langkah kecil tertatih – tatih mengejar, mendekap lutut dengan penuh hangat sambil berusaha menyebut kata “papa”. Iya, papa! Bukan kata “mama” atau kata “boneka” yang pertama kali diucapkannya. Tapi “papa!”. Semestinya aku bersyukur, ucapan itu membuat iri isteriku. Melebihi keiriannya akan kehadiranmu (karena memang ia tidak tahu), bulanku! Kuragap si kecil dengan penyesalan yang menggunung, karena aku pernah membuatnya lapar, lapar kasih sayang seorang ayah. Sambil terus menggendong si kecil, langkahku mengeluyur ke dapur. Aroma masakan terbaui demikian sedap. Air liur menetes membahasi selera, selera yang kuharap belum basi. Aku telah terlalu sering menggosongkan harapan – harapan keluarga dalam oven kebohongan, terlalu sering menyia – nyiakan setiap santapan yang dihidangkan padahal kelezatannya mampu menawarkan kedamaian dan ketenteraman.
Malam ini, di kasur realita, kutelajangi wajah isteriku hingga ke pori – pori ketulusan. Wajah yang selama ini sempat kupalingi. Semua kebusukan yang telah kulakukan tak mampu dibaui olehnya. Aroma yang dihirupnya hanyalah kepercayaan, sebagaimana yang pernah diikrarkan di altar suci pernikahan. Dalam dengurnya kudapati irama kesetiaan seorang isteri. Lebih merdu dari tiupan buluh perindu. Lebih indah dari semua lagu yang pernah digubah. Kualihkan pandangan pada wajah polos lainnya. Wajah yang demikian lugu, penuh kelucuan. Ia belum pernah mengenal kata dusta, apalagi berbuat dosa. Wajah yang merupakan wujud nyata perasaan cintaku pada isteriku. Begitu tenang tidurnya dalam kehangatan cinta sejati, dekapan ibundanya. Kata orang – orang wajahnya sangat mirip denganku. Semoga saja! Dan aku berharap ia tidak mewarisi sifat dan tingkah lakuku. Aku tersenyum gamang.
Kubuka jendela, gerimis sudah reda dan bulan di kejauhan ikut tersenyum, meski rautnya pucat, meski dengan ekpresi bulan yang telah mati suri.
Catatan :
Ragap = memeluk dengan erat
Mengeluyur = berjalan secara spontan
Selingkuh memang indah, tapi semua bermuara pada petaka….
Komentar»
No comments yet — be the first.